Workshop SATUSEHAT Klaim Non-JKN: Menuju Integrasi Klaim Rumah Sakit yang Lebih Cepat dan Akurat

Kementerian Kesehatan RI melalui Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) menyelenggarakan Workshop SATUSEHAT Klaim Non-JKN pada 31 Agustus – 1 September 2026, bertempat di Ruang Rapat 3 Pusdatin, Gedung Sujudi, Kementerian Kesehatan. Workshop ini menjadi bagian dari upaya mempercepat implementasi modul SATUSEHAT Klaim, khususnya untuk integrasi klaim non-JKN antara fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes), penyedia rekam medis elektronik, dan perusahaan asuransi/TPA (Third Party Administrator).

Tim Inovamedika turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini bersama beberapa mitra lain, yaitu PT. Administrasi Medika, Nuha, dan Teramedik.

Latar Belakang Kegiatan

Integrasi klaim non-JKN di SATUSEHAT bertujuan menstandarisasi proses pertukaran data klaim elektronik secara nasional. Selama ini, proses klaim di banyak rumah sakit masih menghadapi kendala seperti input data berulang (double entry), risiko kesalahan input, serta proses verifikasi kepesertaan yang memakan waktu — yang pada akhirnya berdampak pada lambatnya pencairan dana (cash flow) rumah sakit.

Melalui modul SATUSEHAT Klaim, proses ini dirancang agar dapat berjalan secara otomatis dan real-time, dengan memanfaatkan standar internasional FHIR (Fast Healthcare Interoperability Resources).

Hari Pertama: Memahami Alur dan Standar Integrasi

Pembahasan Playbook dan Business Flow

Sesi hari pertama dibuka dengan pemaparan playbook integrasi klaim non-JKN TPA serta business flow yang menjadi acuan bersama seluruh pihak yang terlibat — fasyankes, penyedia rekam medis elektronik, dan asuransi/TPA.

Verifikasi Kepesertaan dan Eligibilitas Jaminan Berbasis FHIR

Salah satu pembahasan inti hari pertama adalah bagaimana resource FHIR seperti Coverage dan Eligibility memungkinkan proses verifikasi kepesertaan serta otorisasi jaminan dilakukan secara otomatis dan real-time. Proses yang sebelumnya memerlukan pengecekan manual kini dapat dilakukan dalam hitungan detik begitu data pasien dimasukkan ke sistem.

Dari ChargeItem hingga Claim/ClaimResponse

Sesi berikutnya membahas alur pengambilan data biaya melalui resource ChargeItem hingga proses Claim dan ClaimResponse. Dengan integrasi ini, rincian biaya tindakan medis dapat ditarik langsung dari Rekam Medis Elektronik (RME) di SIMRS rumah sakit tanpa perlu entry ulang data.

Manfaat bagi Rumah Sakit

Alur ini membawa sejumlah manfaat signifikan bagi rumah sakit, di antaranya:

  • Memangkas birokrasi proses klaim
  • Meniadakan proses input data berulang (double entry)
  • Meminimalkan penolakan klaim akibat kesalahan input
  • Mempercepat pencairan dana melalui satu pintu (single gateway) yang terintegrasi

Technical Pairing dan Hands-on Testing

Selain pembahasan konsep, peserta juga melakukan technical pairing dan persiapan environment, dilanjutkan dengan hands-on testing endpoint non-JKN yang mencakup pengujian request, response, payload, hingga resource FHIR secara langsung.

Hari Kedua: Simulasi Alur Klaim End-to-End

Jika hari pertama berfokus pada pemahaman konsep dan alur, hari kedua workshop diarahkan pada pengujian langsung (hands-on) menggunakan skema simulasi pasien rawat jalan.

Simulasi Peran Fasyankes dan TPA

Dalam simulasi ini, tim bertindak sebagai fasyankes yang berpasangan dengan TPA Ad Medika. Simulasi mencakup keseluruhan siklus klaim pasien rawat jalan, mulai dari pendaftaran hingga pengiriman data tindakan medis.

Alur Pendaftaran dan Verifikasi Kepesertaan

Simulasi dimulai dengan pendaftaran pasien ke pihak asuransi/TPA. Setelah pasien terdaftar, proses dilanjutkan dengan pendaftaran pasien ke fasyankes (IHS). Pada tahap ini, status kepesertaan pasien — aktif atau cancelled — dapat langsung terlihat, sebagai hasil dari integrasi penuh antara Fasyankes (IHS), SATUSEHAT, dan Asuransi/TPA.

Eligibility Request dan Response

Setelah pendaftaran berhasil, fasyankes mengirimkan eligibility request kepada asuransi/TPA. Proses ini melibatkan pertukaran data request dan response antara Fasyankes, SATUSEHAT, dan Asuransi/TPA secara real-time. Sebagai balasannya, TPA mengirimkan EligibilityResponse yang berisi:

  • Nomor SJP (Surat Jaminan Pelayanan)
  • Benefit kepesertaan yang dimiliki pasien
  • Excess policy

Pengiriman Data Medis dan ChargeItem

Setelah eligibility response diterima, fasyankes mengirimkan data medis pasien seperti hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, disertai dengan data tindakan medis dalam bentuk ChargeItem. ChargeItem ini berfungsi sebagai bukti bahwa pasien telah menjalani tindakan medis, dan berisi informasi nama tindakan, kuantitas (qty), serta nilai (value) yang menjadi dasar pengajuan klaim.

Koordinasi Tiga Pihak

Sepanjang proses simulasi, terjadi koordinasi intensif antara Fasyankes, SATUSEHAT, dan Asuransi/TPA — mulai dari diskusi teknis, identifikasi kendala, hingga penyelesaian masalah (solving) secara bersama-sama terkait pertukaran data pasien.

Workshop SATUSEHAT Klaim Non-JKN ini menjadi langkah konkret dalam mendorong transformasi digital sistem klaim kesehatan di Indonesia. Dengan alur yang telah disepakati bersama dan diuji langsung melalui simulasi end-to-end, diharapkan proses klaim non-JKN ke depannya dapat berjalan lebih cepat, akurat, dan minim hambatan — memberi manfaat langsung baik bagi fasyankes, perusahaan asuransi/TPA, maupun pasien.

Inovamedika berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam mendukung proses integrasi ini, sejalan dengan upaya bersama menuju ekosistem layanan kesehatan digital yang lebih efisien dan terpercaya.


Artikel ini disusun berdasarkan partisipasi langsung tim Inovamedika dalam Workshop SATUSEHAT Klaim Non-JKN yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI pada 31 Agustus – 1 September 2026.

Share your love
Tim Editorial Inovamedika
Tim Editorial Inovamedika
Articles: 48