Integrasi alat kesehatan dengan SIMRS dan SATUSEHAT kian penting dalam transformasi digital rumah sakit. Namun, hasil yang berhasil terkirim dari alat belum otomatis berarti integrasinya berjalan benar. Kesesuaian identitas pasien, order, dan hasil pemeriksaan, serta kemampuan menelusuri perubahan data, ikut menentukan keandalan integrasi dan keselamatan pelayanan.
Bandung, 27 Oktober 2026 — Ketika sebuah alat laboratorium berhasil mengirim hasil pemeriksaan ke Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), pekerjaan integrasi tampak sudah selesai. Tetapi ada pertanyaan yang lebih menentukan: apakah hasil itu masuk ke pasien dan pemeriksaan yang benar?
Pertanyaan inilah yang diangkat Prando Wandi Situngkir, Founder & CEO Inovamedika, dalam seminar online Perkumpulan Teknik Pelayanan Kesehatan Indonesia (PTPI) pada 23 Oktober 2026 tentang integrasi alat kesehatan, SIMRS, dan SATUSEHAT. Menurutnya, tantangan integrasi kini bukan lagi soal membuat dua sistem bisa berkomunikasi. Begitu data dipakai dalam pelayanan, yang terpenting adalah ketepatan hubungan antara pasien, order, pemeriksaan, dan hasil.
“Ketika pemeriksaan sudah selesai di alat, apakah dokter langsung bisa melihat hasilnya pada pasien dan pemeriksaannya benar?”
Pertanyaan sederhana itu menyoroti hal yang sering luput dalam digitalisasi rumah sakit: data terkirim belum tentu data tepat.
Lebih dari Sekadar Menyambungkan Alat
Alat kesehatan, terutama perangkat laboratorium dan radiologi, menghasilkan informasi yang menjadi bagian dari pelayanan pasien. Dengan integrasi, hasil tidak perlu lagi dicatat ulang secara manual. Namun otomatisasi membawa tuntutan baru: ketika data berpindah antarsistem tanpa campur tangan petugas, identitas dan konteks pemeriksaan harus tetap terjaga sepanjang perjalanannya. Tantangan ini makin terasa pada pasien yang menjalani beberapa pemeriksaan, termasuk pemeriksaan berulang dalam satu hari.
Di laboratorium, hubungan informasi dapat dibaca sebagai rangkaian berikut:
Pasien → Kunjungan → Order → Spesimen → Pemeriksaan → Hasil
Di radiologi, rangkaiannya serupa, tanpa spesimen:
Pasien → Kunjungan → Order → Pemeriksaan → Hasil
Barcode pada spesimen membantu menjaga keterkaitan pasien, order, dan sampel. Di radiologi, accession number, yaitu kode unik yang menghubungkan permintaan pemeriksaan dengan hasil pencitraan, membantu menjaga keterlacakan. Bila salah satu mata rantai terputus, sistem mungkin tetap menerima data, tetapi belum tentu dalam konteks pelayanan yang benar.

Middleware dan Persoalan Makna Data
Perangkat medis berasal dari berbagai produsen dan generasi teknologi, dengan protokol komunikasi dan struktur data yang berbeda-beda, sehingga alat tidak selalu bisa dihubungkan langsung ke SIMRS. Middleware hadir sebagai jembatan: ia membaca pesan dari alat melalui koneksi serial atau jaringan TCP/IP, memetakan kode parameter, satuan, dan nilai rujukan, lalu meneruskannya ke sistem tujuan, misalnya dalam format JSON melalui API.
Peran ini menyentuh lapisan yang lebih halus, yaitu apakah sistem-sistem yang berbeda memahami data dengan makna yang sama. Kesalahan pemetaan parameter atau satuan dapat membuat koneksi terlihat berhasil, padahal informasi yang diterima belum tentu tepat. Karena itu, keberhasilan integrasi perlu dinilai dari kualitas informasinya, bukan hanya dari lancarnya pengiriman.
Teknologi Bukan Satu-satunya Faktor
Integrasi alat kesehatan juga menunjukkan bahwa transformasi digital rumah sakit tidak pernah sepenuhnya urusan teknologi.
“Persoalan integrasi itu selalu melibatkan beberapa pihak: ada terkait dengan alatnya, ada dengan aplikasi, ada kebiasaan user-nya, dan ada keputusan terkait dengan manajemennya.”
Alat yang sudah mendukung integrasi belum memberi manfaat optimal bila konfigurasi aplikasinya kurang tepat. Aplikasi yang baik pun belum cukup bila alur kerja pengguna tidak mendukung, dan dashboard serta audit log tidak banyak membantu bila tak ada yang bertugas menindaklanjuti kegagalan yang ditemukan. Singkatnya, integrasi yang andal membutuhkan teknologi, proses, orang, dan tata kelola yang berjalan bersama.

iLab dan iRad dalam Alur Pelayanan
Kebutuhan tersebut dikaitkan Prando dengan solusi Inovamedika, yaitu iLab dan iRad. iLab mendukung keterhubungan order, spesimen, dan hasil analyzer, sehingga hasil pemeriksaan masuk ke konteks pasien yang sesuai. iRad mendukung pencatatan order, pemeriksaan, dan hasil radiologi agar tetap bisa ditelusuri berdasarkan pasien dan pemeriksaannya.
Prinsip yang dijaga sederhana: pasien yang tepat, order yang tepat, pemeriksaan yang tepat, dan hasil yang tepat. Sebab tujuan integrasi bukan menghubungkan sebanyak mungkin sistem, melainkan memastikan informasi dapat dipakai secara tepat dalam pelayanan. Penerapannya tetap disesuaikan dengan perangkat, konfigurasi, dan proses kerja di masing-masing rumah sakit.
Dari Alat hingga SATUSEHAT
Setelah hasil masuk ke SIMRS, perjalanan data belum tentu selesai, karena informasi juga dapat dipertukarkan dengan SATUSEHAT. Arsitekturnya perlu dilihat secara menyeluruh:
Alat Kesehatan → Middleware/LIS/RIS → SIMRS/RME → SATUSEHAT
Di setiap perpindahan ada potensi kendala, mulai dari kesalahan pemetaan, format yang tidak sesuai, hingga gangguan jaringan, dan tanpa pemantauan kendala itu bisa tidak segera diketahui. Monitoring dashboard membantu melihat transaksi yang berhasil, masih tertunda, atau gagal, sedangkan audit log menyediakan jejak untuk menelusuri sumber masalah. Namun status “berhasil” pada sistem bukan akhir cerita, karena keberhasilan teknis tidak selalu sama dengan ketepatan isi data.
Ada pula persoalan yang muncul setelah integrasi berjalan, yaitu koreksi hasil. Bila hasil yang sudah terkirim kemudian diperbaiki, rumah sakit perlu memastikan koreksi itu ikut sampai ke sistem tujuan dan pengguna tahu hasil mana yang masih berlaku. Audit trail membantu mencatat kapan hasil dibuat, dikirim, dikoreksi, dan diteruskan kembali.
Siapa yang Menindaklanjuti?
Dashboard dapat menunjukkan data yang tertunda, log dapat memperlihatkan kegagalan, dan sistem dapat mengirim notifikasi. Tetapi tetap diperlukan petugas yang memastikan masalah diperiksa dan diselesaikan.
“Integrasi yang kita katakan andal itu adalah membutuhkan alur data yang terjaga dan penanggung jawab yang jelas di setiap fase-fase ini.”
Karena itu, pertanyaannya bukan hanya “sistemnya bisa melakukan apa”, tetapi juga “ketika ada masalah, siapa yang mengetahui dan siapa yang bertindak”. Di sinilah pembicaraan integrasi bergeser dari teknologi menuju tata kelola.
Belajar dari Integrasi 25 Alat Laboratorium
Prando juga membagikan pengalaman mengintegrasikan lebih dari 25 alat laboratorium dan tiga alat radiologi di sebuah RSUD kelas Paripurna. Skala tersebut menunjukkan bahwa tidak ada satu konfigurasi yang cocok untuk semua alat. Setiap perangkat punya protokol, parameter, dan kebutuhan penyesuaian sendiri, sehingga perlu inventarisasi, pemetaan data, pengujian, dan koordinasi banyak pihak.
Implementasi pun tidak harus dimulai sekaligus. Pilot project pada unit dengan volume pemeriksaan tinggi dapat dipakai untuk menguji seluruh alur, dari order, pemeriksaan, hasil, dan verifikasi hingga SIMRS dan sistem tujuan. Setelah alur terbukti stabil, cakupannya diperluas bertahap.
Sebelum dipakai penuh, user testing juga penting agar pengguna dapat memastikan order dikenali dengan benar, hasil muncul pada pasien yang tepat, dan alur baru sesuai dengan pekerjaan sehari-hari. Di laboratorium, skenario pengujian perlu direncanakan karena penggunaan reagen turut memengaruhi biaya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa integrasi bukan sekadar proyek IT, melainkan perubahan proses kerja yang menyentuh teknologi, pelayanan, pengguna, dan manajemen sekaligus.
Dari Konektivitas Menuju Data yang Dapat Dipercaya
Konektivitas hanyalah fondasi. Nilainya terlihat ketika data yang bergerak antarsistem tetap tepat, konsisten, dapat ditelusuri, dan dapat dipercaya. Data seperti itu perlu bisa menjawab beberapa hal: apakah pasiennya benar, apakah order dan pemeriksaannya benar, apakah hasilnya masih berlaku, apakah perubahannya tercatat, apakah kegagalannya terpantau, dan siapa yang bertanggung jawab menindaklanjuti.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan integrasi bukan jumlah alat yang terhubung atau data yang terkirim, melainkan apakah informasi yang tepat tersedia untuk pasien yang tepat pada saat dibutuhkan. Bagi Inovamedika, perspektif ini sejalan dengan upaya mengembangkan solusi yang berangkat dari kebutuhan operasional rumah sakit, dengan tetap menyesuaikan kesiapan dan proses kerja di setiap fasilitas. Melalui forum berbagi pengetahuan seperti seminar PTPI, pembahasan teknis dan kebutuhan lapangan dapat terus dipertemukan.

