Bandung, 2026 – Pada 23 Oktober 2026, Perkumpulan Teknik Pelayanan Kesehatan Indonesia (PTPI) menyelenggarakan seminar online bertema “Mengintegrasikan Alat Kesehatan dengan SIMRS Sebagai Langkah Strategis Menuju Smart Hospital”. Dalam salah satu sesi, Setiaji mengulas tantangan integrasi digital dari sisi kualitas data, standardisasi, interoperabilitas, peran SATUSEHAT, hingga cara mengukur keberhasilan.
Pesan utamanya: keberhasilan digitalisasi tidak cukup dilihat dari banyaknya sistem yang terhubung atau besarnya data yang terkirim. Informasi juga perlu valid, konsisten, terstandar, aman, dan dapat dimanfaatkan oleh sistem penerima.
Data Banyak, Tetapi Tidak Semuanya Bisa Dipakai
Setiaji mencontohkan pengalamannya ketika bekerja di Kementerian Kesehatan. Saat itu, fasilitas pelayanan kesehatan sudah mengirimkan sekitar dua miliar data, tetapi hanya sekitar 30 persen yang dapat diproses.
“Faskes sudah mengirim dua miliar data, tetapi ternyata hanya 30% yang bisa masuk.”
Penyebabnya antara lain identitas pasien yang tidak valid, kode obat yang tidak sesuai, dan kode diagnosis yang tidak mengikuti standar. Contoh ini menunjukkan beda antara volume dan kualitas data. Sistem bisa saja mengirim informasi dalam jumlah besar, tetapi bila identitas, kode, format, atau strukturnya tidak sesuai, informasi itu belum tentu bisa diproses sistem tujuan. Karena itu, pertanyaan “berapa banyak data yang sudah dikirim” perlu dilengkapi dengan pertanyaan yang lebih penting: berapa banyak yang valid, dapat diproses, dan dapat dipakai kembali?
Persoalan ini makin relevan seiring penguatan rekam medis elektronik (RME) dalam pengelolaan klaim JKN. Pada 30 Juli 2026, Kementerian Kesehatan bersama KPK, Kementerian Dalam Negeri, BPJS Kesehatan, dan BSSN menandatangani surat edaran bersama tentang percepatan implementasi RME yang terintegrasi dengan SATUSEHAT dalam pengelolaan klaim JKN, dikenal sebagai inisiatif No RME, No Claim. RME membantu dokumentasi lebih terstruktur, tetapi persetujuan klaim tetap bergantung pada kelengkapan dokumen, kesesuaian pelayanan, dan ketepatan pengodean.
Dari Konektivitas ke Kualitas Data
Kualitas data kian krusial ketika rumah sakit mengembangkan RME dan menghubungkan sistem yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri: SIMRS, laboratorium, radiologi, farmasi, alat kesehatan, hingga sistem eksternal. Di kondisi ini, kualitas pencatatan di titik awal sangat menentukan. Identitas pasien yang kurang tepat, diagnosis yang tidak dikodekan sesuai standar, parameter yang salah dipetakan, atau informasi yang tidak lengkap dapat menimbulkan masalah di proses berikutnya. Semakin terintegrasi ekosistem digital, semakin penting kualitas data yang mengalir di dalamnya.
SATUSEHAT dan Standar Pertukaran Informasi
Setiaji menjelaskan SATUSEHAT dalam kerangka Digital Public Infrastructure (DPI), yaitu infrastruktur digital publik untuk pertukaran data dengan standar yang disepakati.
“Interoperability, di mana SATUSEHAT ini adalah digital public infrastructure yang merupakan data exchange, termasuk standardisasi.”
Rumah sakit tidak harus memakai aplikasi yang sama untuk bertukar informasi. Yang dibutuhkan adalah standar yang membuat data dari satu sistem dapat dipahami secara konsisten oleh sistem lain. Beberapa standar yang disinggung Setiaji:
- FHIR untuk pertukaran informasi kesehatan elektronik.
- LOINC untuk mengidentifikasi pemeriksaan dan observasi.
- ICD-10 untuk pengodean diagnosis.
- DICOM untuk pengelolaan dan pertukaran informasi pencitraan medis.
Standar saja belum cukup. Penerapannya tetap perlu pemetaan dan validasi agar informasi tidak kehilangan konteks ketika berpindah sistem. Dengan begitu, interoperabilitas punya dua pertanyaan: apakah sistem dapat saling berkomunikasi, dan apakah informasi yang dipertukarkan tetap dipahami dengan makna yang benar.

Capture Once, Use Across the Care Journey
Setiaji memperkenalkan prinsip Capture Once, Use Across the Care Journey: informasi dicatat dengan tepat sejak awal supaya bisa dipakai pada tahap pelayanan berikutnya tanpa input ulang yang tidak perlu.
Prinsip ini relevan bagi rumah sakit yang memiliki banyak titik penghasil dan pengguna data, dari pendaftaran, pelayanan dokter, alat kesehatan, laboratorium, radiologi, dan farmasi hingga RME dan administrasi penjaminan. Bila sistem-sistem itu tidak terhubung, petugas harus memasukkan ulang data atau melakukan rekonsiliasi manual, yang memakan waktu dan menambah risiko ketidaksesuaian. Alurnya dapat diringkas:
Catat sekali → Standarkan → Integrasikan → Gunakan kembali → Ukur
Punya SIMRS Belum Tentu Sudah Smart Hospital
Menurut Setiaji, kematangan digital rumah sakit berkembang bertahap:
Computerized Hospital → Digital Hospital → Connected Hospital → Data Driven Hospital → Smart Hospital
Menggunakan SIMRS dan RME barulah awal. Rumah sakit makin matang ketika sistem saling terhubung, data dimanfaatkan lintas proses, informasi mendukung pengambilan keputusan, dan teknologi membantu pelayanan yang lebih proaktif. Smart Hospital sendiri mencakup lima dimensi:
- Smart Clinical Care: teknologi dan informasi mendukung proses klinis.
- Smart Operation: operasional lebih efisien dan dapat dipantau.
- Smart Governance: informasi mendukung pengelolaan dan pengambilan keputusan.
- Smart Infrastructure & Facility: infrastruktur dan fasilitas mendukung pelayanan yang terhubung.
- Smart Patient Experience: pengalaman pelayanan lebih mudah dan terintegrasi bagi pasien.
Artinya, agenda ini tidak hanya milik unit teknologi informasi. Ia menyentuh pelayanan klinis, operasional, tata kelola, fasilitas, hingga pengalaman pasien.

Menilai Dampak, Bukan Hanya Koneksi
Setiaji menekankan bahwa integrasi sebaiknya dinilai dari dampaknya. Ia menguraikan lima area indikator:
- Efisiensi: berkurangnya entri berulang dan waktu penyelesaian administrasi.
- Kualitas data: kelengkapan dan konsistensi informasi.
- Pelayanan: waktu tunggu dan kelancaran perpindahan informasi.
- Penjaminan: waktu pemrosesan klaim.
- Keamanan: jejak audit dan perlindungan akses.
Dengan indikator ini, pertanyaannya bergeser dari “apakah sistem A sudah terhubung dengan sistem B” menjadi “apakah pekerjaan berulang berkurang, kualitas data meningkat, informasi lebih cepat tersedia, dan transaksi dapat ditelusuri dengan akses yang terlindungi”. Pengukuran sebaiknya berangkat dari kondisi awal yang jelas, dengan tetap memperhitungkan faktor lain yang memengaruhi kinerja.
Integrasi Bukan Tujuan Akhir
Menutup paparannya, Setiaji menegaskan bahwa integrasi harus bermuara pada manfaat nyata.
“Integrasi ini bukan tujuan akhir, tetapi bagaimana kita bisa menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih terhubung, efisien, aman, dan tentunya berorientasi kepada pasien.”
Perjalanan menuju Smart Hospital pun dapat dibaca sebagai rangkaian dari konektivitas, interoperabilitas, kualitas data, hingga data yang dapat dipercaya dan hasil yang terukur. Teknologi menyediakan konektivitas, standardisasi membantu sistem berbicara dengan bahasa yang sama, kualitas data membuat informasi layak dipakai, dan pengukuran menunjukkan apakah perubahan benar-benar terjadi. Semuanya kembali pada tujuan yang sama: mendukung pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi pasien.

