Transformasi digital rumah sakit tidak berhenti ketika SIMRS, rekam medis elektronik, atau alat kesehatan sudah terhubung. Nilainya baru terasa ketika teknologi membantu menyederhanakan proses dan mendukung kinerja pelayanan yang dapat diukur. Pengalaman RS NU Tuban memperlihatkan bagaimana perjalanan yang dibangun bertahap dapat menghubungkan kebutuhan pelayanan, integrasi sistem, pengelolaan data, hingga proses klaim BPJS Kesehatan.
Bandung, 2026 – Dalam seminar online Perkumpulan Teknik Pelayanan Kesehatan Indonesia (PTPI) pada 23 Oktober 2026, Direktur RS NU Tuban dr. Didik Suharsoyo membagikan pengalaman rumah sakitnya mengembangkan pelayanan berbasis digital. Tema paparannya singkat tetapi luas maknanya: “Satu Pemeriksaan, Satu Data.” Materi tersebut menempatkan integrasi alat kesehatan dengan SIMRS dan rekam medis elektronik sebagai bagian dari upaya membangun pelayanan yang lebih efisien.
Yang menarik dari RS NU Tuban bukan sekadar banyaknya sistem yang dipakai, tetapi cara teknologi ditempatkan sebagai bagian dari perubahan proses pelayanan. SIMRS iHospital dan solusi pendukung dari Inovamedika menjadi bagian dari infrastruktur digital yang dipakai rumah sakit, bersama kepemimpinan, kesiapan pengguna, standardisasi proses, kualitas data, dan evaluasi berkelanjutan yang tetap menentukan hasil.
Dari Pencatatan Manual ke Alur yang Terhubung
Perubahan paling mudah dipahami dengan melihat kondisi sebelumnya. Dalam materinya, dr. Didik menampilkan tantangan yang dulu dihadapi: hasil alat kesehatan banyak dicatat manual, petugas harus memasukkan ulang hasil ke SIMRS, informasi terlambat tersedia di rekam medis elektronik, dan proses manual membawa risiko kesalahan serta menyulitkan penelusuran.
Masalahnya bukan pada kertas atau komputer. Setiap pencatatan dan pemindahan data berulang menambah tahapan kerja, dan makin banyak tahapan manual, makin besar kebutuhan verifikasi dan koordinasi agar informasi tetap konsisten. Karena itu, digitalisasi di RS NU Tuban diarahkan untuk memperbaiki aliran informasi, bukan sekadar mengganti catatan manual dengan aplikasi:
Proses manual → proses terintegrasi → data terstruktur → kinerja terukur

Sebuah Perjalanan, Bukan Pemasangan Sistem
Perubahan ini tidak terjadi sekaligus. Implementasi rekam medis elektronik dimulai dengan project kick-off pada 9 Maret 2022, lalu berkembang seiring kebutuhan integrasi yang lebih luas. Dalam paparannya, perjalanan itu dirangkum sebagai “4 Tahun Perjalanan Transformasi Digital: Dari Implementasi menuju Integrasi Nasional”, yang mencakup integrasi SATUSEHAT, penguatan data sepanjang 2022–2026, dan integrasi dengan BPJS Kesehatan. Empat fondasinya adalah standardisasi data, interoperabilitas sistem, validasi dan kualitas data, serta keamanan dan tata kelola.
Pesannya jelas: transformasi digital rumah sakit sebaiknya tidak dipandang sebagai proyek pengadaan aplikasi. Pemasangan sistem hanyalah awal, dan nilainya muncul ketika sistem terus berkembang mengikuti kebutuhan rumah sakit serta menjadi bagian dari kerja sehari-hari.
Quality, Cost, Speed: Teknologi Harus Menjawab Kebutuhan Operasional
Dalam pengelolaan rumah sakit, dr. Didik menempatkan quality, cost, dan speed sebagai tiga perhatian utama. Ketiganya saling terkait: kecepatan tidak boleh mengorbankan ketepatan, efisiensi biaya tidak sama dengan memangkas pengeluaran, dan peningkatan mutu membutuhkan proses yang konsisten.
Teknologi menjadi salah satu alat untuk memperbaiki proses itu. Integrasi mengurangi pemindahan data berulang, informasi yang terstruktur memudahkan penelusuran, dan pemantauan memberi gambaran proses yang sedang berjalan. Sehingga pertanyaannya bukan lagi “berapa banyak aplikasi yang sudah dipakai”, melainkan “apa yang menjadi lebih baik setelah teknologi digunakan”.

Menghubungkan Pemeriksaan Penunjang dengan SIMRS
Salah satu area implementasi yang ditampilkan adalah integrasi pemeriksaan penunjang. Di radiologi, alurnya menghubungkan perangkat radiologi, penyimpanan gambar pada PACS, SIMRS, hingga pertukaran informasi dengan SATUSEHAT dan BPJS Kesehatan. Di laboratorium, hasil analyzer perlu terhubung dengan order pasien yang sesuai.
Hasil pemeriksaan tidak berdiri sendiri. Informasi harus tetap terkait dengan pasien, order, dan konteks pelayanannya agar bisa dipakai tenaga kesehatan secara tepat. Kebutuhan ini didukung antara lain oleh iHospital sebagai SIMRS serta iLab dan iRad untuk pengelolaan informasi laboratorium dan radiologi. Dengan pendekatan tersebut, SIMRS tidak lagi hanya aplikasi administrasi, tetapi menjadi inti digital yang menghubungkan informasi klinis, operasional, dan administratif. Meski begitu, ketepatan identitas pasien, pemetaan data, konfigurasi, dan pengujian tetap perlu dijaga.
Efisiensi Pelayanan: SLA 1 Jam 5 Menit
Salah satu capaian yang dibagikan dr. Didik adalah waktu penyelesaian pelayanan atau Service Level Agreement (SLA) sebesar 1 jam 5 menit.
“Di rumah sakit kami, SLA-nya itu 1 jam 5 menit.”
Angka tersebut dibandingkan dengan acuan 3,5 jam yang disebutkan dalam sesi. Menurut dr. Didik, integrasi hasil laboratorium dan radiologi dengan SIMRS membantu mempercepat alur karena hasil tidak perlu dimasukkan ulang secara manual.
Capaian operasional seperti ini tentu tidak bisa dikaitkan dengan satu aplikasi saja. Jumlah pasien, kesiapan tenaga kesehatan, dan kondisi operasional ikut memengaruhi. Kinerja terbentuk dari kombinasi kepemimpinan, orang, proses, teknologi, dan tata kelola: teknologi mendukung, manajemen menentukan arah, pengguna menjalankan proses, dan tata kelola menjaga konsistensinya.
Klaim Digital dan Ketepatan Data
Bagi fasilitas kesehatan yang melayani peserta JKN, pengelolaan klaim adalah bagian penting operasional. Dr. Didik memaparkan penerapan rekam medis elektronik yang terintegrasi dengan Smart Claim untuk pengelolaan klaim BPJS Kesehatan. Sistem tersebut mencakup integrasi real-time, validasi data, keamanan, dan audit trail, dengan manfaat berupa proses yang lebih cepat, data yang lebih terintegrasi, transparansi, dan kemampuan monitoring.
Dr. Didik menyebutkan tingkat klaim terbayar di RS NU Tuban sekitar 99,97%. Angka ini perlu dibaca bersama faktor lain: kelengkapan dokumentasi, kepatuhan terhadap ketentuan, ketepatan verifikasi, dan koordinasi antartim. Satu hal yang jelas, proses yang bisa dilihat lebih mudah diukur, dan proses yang bisa diukur lebih mudah diperbaiki.
Pengakuan Nasional, dan Pekerjaan yang Berlanjut
Perjalanan itu kemudian mendapat pengakuan. Dalam materi seminar, RS NU Tuban ditampilkan sebagai Juara 1 Tingkat Nasional Transformasi Digital BPJS Kesehatan 2025 untuk kategori FKRTL dengan implementasi integrasi sistem digital terbaik, serta meraih predikat Bintang 7 Fasilitas Kesehatan Berkomitmen JKN.
Namun penghargaan bukan garis akhir. Sistem perlu dipelihara, proses perlu dievaluasi, dan pengguna perlu terus beradaptasi. Karena itu, pendekatan implementasi yang ditampilkan juga mencakup konfigurasi sistem, validasi data, pelatihan tim IT, pendampingan pengguna, dan evaluasi kemampuan menangani kendala teknis. Capaian ini lebih tepat dilihat sebagai tonggak dalam perjalanan yang berkelanjutan.
Lima Catatan untuk Rumah Sakit Lain
Dr. Didik merangkum lima rekomendasi:
- Mulai dari masalah pelayanan yang nyata, bukan dari teknologinya.
- Utamakan manfaat klinis dan operasional.
- Pastikan keamanan, ketepatan, dan keterlacakan data.
- Libatkan tenaga kesehatan sejak tahap perencanaan.
- Ukur hasil dan perbaiki secara berkelanjutan.
Kelimanya bermuara pada satu pesan:
“Keberhasilan integrasi bukan sekadar alat dapat terhubung, tetapi data yang dihasilkan benar-benar membantu pelayanan pasien.”
Teknologi sebagai Mitra Perjalanan
Pengalaman RS NU Tuban juga memberi gambaran tentang hubungan rumah sakit dan mitra teknologi. Rumah sakit membutuhkan teknologi yang dapat berkembang mengikuti proses pelayanan, kebutuhan integrasi, dan tuntutan interoperabilitas yang terus berubah. Dalam perjalanan ini, iHospital, integrasi laboratorium dan radiologi, rekam medis elektronik, serta dukungan pengelolaan klaim digital menjadi bagian dari fondasi yang digunakan.
Keberhasilan RS NU Tuban sendiri adalah hasil kerja bersama pimpinan, tenaga kesehatan, tim IT, unit pelayanan, manajemen, dan para mitra yang terlibat. Pemilihan dan penerapan teknologi pun tetap perlu menyesuaikan proses kerja, perangkat, infrastruktur, serta kompetensi pengguna di setiap rumah sakit.
Seperti ditegaskan dr. Didik di penutup materinya, teknologi bukan tujuan akhir transformasi rumah sakit. Teknologi harus mampu menyatukan data, menyederhanakan proses pelayanan, dan membantu tenaga kesehatan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada setiap pasien.

